Just another WordPress.com site

Tugas 1 : How To Pass Listening Section in TOEFL

Tugas 1

How To Pass Listening Section in TOEFL

Listening assignment is considered to be one of the most difficult. That is why practicing and improving your listening skills is a vital necessity when preparing for the TOEFL.

Preparation Strategies

  • Listen to spoken English from multiple sources as much as possible. Listen to English spoken movies and English spoken TV channels, listen to the radio and as many other listening sources as you may find. It would be better if your passages are academic or close to what is in TOEFL iBT. The more you practice listening, the better listener you will become.
  • Listen for the main idea. It is usually found at the beginning of the listening passages, while the details are dispersed throughout the lecture. The main idea will give you understanding of what the conversation/lecture is about. Then you may listen for details.
  • Learn to find how the ideas are presented in the listening passage. Some of the main relations between ideas include cause/effect, compare/contrast, and steps in a process.
  • Learn to listen for signal words that indicate different part of the passage – introduction, major steps, examples, conclusions, etc.
  • Build your vocabulary. While listening, try to guess the meaning of unfamiliar words from context. It is very important since there is a big chance to come across words you don’t know at the real test. Then, you should guess their meaning. Write down every word you don’t know and include it in your wordlist. Try to memorize it and use it in your speaking and writing. Flashcards could be a great way to improve your vocabulary.
  • Listen to conversations or lectures with variety of accents. In TOEFL iBT Listening section there is a variety of accents and pronunciations. For this reason, you should practice listening to a people with different accents and pronunciation patterns.
  • Practice note-taking. Note-taking is allowed during all sections of TOEFL iBT. Effective note-taking may highly improve your performance. It is almost impossible to memorize all clues and details provided in the Listening section. Moreover, you can hear the passages ONLY ONCE. Therefore, to answer the questions you have to rely on what you remember from the passage and your notes. See also our Effective Note-Taking Strategies.
  • Summarize in writing what you have heard, using your notes. Thus, you will learn to find the purpose and main idea of the listening, and also the most important details. You will also learn to take and use notes. It also helps in improving your writing skills.
  • Familiarize yourself with the type of questions in TOEFL iBT. Make sure that during the preparation you learn what answers are required by the different types of question. Some questions may ask you to provide two answers, others to click in a chart box. If you are familiar with the question types, you may save important time.

 

At the exam strategies

  • Forget about the Reading section. Now it is time to fully concentrate on the Listening section.
  • The clock is ticking only when you are answering the questions and not when you are listening to the passages. So, when you listen, forget about the clock.
  • Prepare for note-taking. Before the section starts, write down the words ‘main idea’, ‘major points’, and ‘important details’. Under which word you will place your notes from the listening passage.
  • Do not be distracted by the speaker’s accent, speaking style and delivery. Focus on the content and flow of information the speaker(s) deliver.
  • Listen to find clues that will help you understand what the speaker’s purpose, attitude and degree of certainty is. Listen for words that show relationship between ideas.
  • Pay attention to the visual materials. Some of the visual materials in the Listening section bring important information. Blackboards show important words or phrases that are discussed during the lecture. Illustrations and graphics support the information presented in the lecture. They are available only when the lecturer refers to them.
  • Answering is different. In the Listening section you may not return to the previous questions to correct your answers. Nevertheless, you have to confirm twice that you want to move to the next question. First, when you provide your answer you have to press the NEXT button. After pressing the NEXT button you may alter you answer. To move to the next question you have to press OK button. Sometimes test takers forget this and lose important time. Please, set your mind that you have to press two buttons.
  • Take a guess. There is no penalty for an incorrect answer in TOEFL iBT. It doesn’t bring any points. If you see you are running out of time, just take a guess and mark answers for all remaining questions. There is 25 % chance to guess the right answer.

 

Tugas 4 – Asal Mula Piano

Asal Mula Piano

Piano merupakan alat musik yang telah dikenal luas oleh berbagai kalangan. Alat musik ini hampir selalu ada dan digunakan dalam pertunjukan musik. Namun, belum banyak orang yang tahu bagaimana awal mula piano diciptakan hingga menjadi instrumen musik dengan suara indah seperti sekarang ini.

Perkembangan awal piano diawali dari perkembangan alat musik yang menggunakan senar sebagai penghasil suara. Mungkin tidak ada yang menyangka bahwa alat musik yang menjadi cikal bakal piano adalah alat musik yang mirip dengan kecapi yang disebut dulcimer. Pengertian dulcimer sendiri adalah instrument dengan senar yang berbentuk segi empat dan dimainkan dengan dua pemukul dengan berat ringan.[1]

Pada abad pertengahan, terdapat banyak percobaan untuk menghasilkan instrumen musik bersenar dengan model alat musik yang dipencet seperti organ tetapi dengan menggunakan senar sebagai penghasil suara[2]. Penemuan piano dirintis pada proses ini. Hingga pada abad ke-17 terciptalah 2 alat musik dengan mekanisme tersebut yang dikenal dengan nama clavichord dan harpsichord. Bunyi pada clavichord dihasilkan dari hasil tumbukan antara senar dan pemukul dari besi dari kuningan yang bentuknya seperti kepala obeng atau lebih dikenal dengan sebutan tangent. Mekanisme ini sama dengan prinsip hammering pada gitar. Berbeda dengan clavichord, pada harpsichord bunyi dihasilkan dari senar yang dipetik oleh besi yang berbentuk seperti jarum.

250px-Pianoforte_Cristofori_1720

Piano Buatan Bartolomeo Crisotofori

Penemuan bentuk piano modern sendiri diciptakan oleh Bartolomeo Cristofori dari Italia yang dipekerjakan oleh Ferdinando de’ Medici, seorang bangsawan dari Tuscany. Tidak diketahui kapan instrumen ini pertama kali dibuat. Namun dari 3 instrumen yang berhasil diselamatkan memiliki tangal pembuatan sekitar tahun 1720.[3]

Piano modern ini merupakan gabungan antara clavichord dan harpsichord. Clavichord memiliki pengendalian volume dan nada lebih baik tetapi suaranya terlalu kecil sedangkan Harpsichord memiliki suara yang besar namun pengendalian nada yang sedikit kurang baik. Piano mencoba menggabungkan suara yang besar dengan kontrol yang baik sambil menghilangkan efek buruk yang mungkin ditimbulkan dari penggabungan tersebut. Cristofori sukses memadukan keduanya dengan mekanika instrumen yang kompleks.

Piano yang berhasil diciptakan oleh Cristofori ini mengundang kekaguman banyak orang. Seperti Gioseffo Zarlino, musisi keluarga medici, yang menulis “Ini adalah cara di mana dimungkinkan untuk memainkan Arpicimbalo del piano e forte, diciptakan oleh Guru Bartolomeo Christofani [sic] dari Padua pada tahun 1700, seorang pembuat harpsichord untuk Tuan Agung Ferdinand dari Tuscany.”

Inilah awal mula diciptakannya piano. Piano kemudian mengalami banyak perkembangan di era Bach, Mozart, dan era modern sampai dengan bentuk-bentuk elektronik yang banyak kita temukan sekarang.


[1] “Definition of DULCIMER”. Merriam-Webster, Incorporated. Retrieved 29 July 2012.

[2] Pollens, Stewart (October 1995). The Early Pianoforte. Cambridge University Press. ISBN 0-521-41729-5. Chapter 1.

[3] Erlich, Cyril (May 1990). The Piano: A HistoryOxford University Press, USA; Revised edition. ISBN 0-19-816171-9.

Tugas 3 – Kutipan dan Catatan Kaki

Kutipan, Catatan Kaki, Catatan Tubuh

 

  1. a.    Kutipan

Kutipan adalah pinjaman kalimat atau pendapat dari seorang penulis, baik yang terdapat dalam buku, majalah, koran, dan sumber lainnya, ataupun berasal dari ucapan seorang tokoh. Kutipan digunakan untuk mendukung argumentasi penulis.

Namun, penulis jangan sampai menyusun tulisan yang hanya berisi kumpulan kutipan. Kerangka karangan, kesimpulan, dan ide dasar harus tetap pendapat penulis pribadi, kutipan berfungsi untuk menunjang/mendukung pendapat tersebut. Selain itu, seorang penulis sebaiknya tidak melakukan pengutipan yang terlalu panjang, misalkan sampai satu halaman atau lebih, hingga pembaca lupa bahwa apa yang dibacanya adalah kutipan. Kutipan dilakukan seperlunya saja sehingga tidak merusak alur tulisan.

Kutipan juga bisa diambil dari pernyataan lisan dalam sebuah wawancara, ceramah, ataupun pidato. Namun, kutipan dari pernyataan lisan ini harus dikonfirmasikan dulu kepada narasumbernya sebelum dicantumkan dalam tulisan.

Terdapat dua jenis kutipan:

  1. Kutipan langsung, apabila penulis mengambil pendapat orang lain secara lengkap kata demi kata, kalimat demi kalimat, sesuai teks asli, tidak mengadakan perubahan sama sekali.
  2. Kutipan tidak langsung, apabila penulis mengambil pendapat orang lain dengan menguraikan inti sari pendapat tersebut, susunan kalimat sesuai dengan gaya bahasa penulis sendiri.

 

  1. b.    Sumber Kutipan (Referensi)

 

Salah satu karakter utama tulisan ilmiah adalah referensial, menunjukkan bahwa argumen-argumen yang diajukan dilandasi oleh teori atau konsep tertentu, sekaligus menunjukkan kejujuran intelektual dengan mencantumkan sumber kutipan (referensi) yang digunakan. Dalam praktik penulisan, setiap kali penulis mengutip pendapat orang lain, baik dari buku, majalah, ataupun wawancara, setelah kutipan itu harus dicantumkan sumber kutipan (buku, majalah, atau koran) yang digunakan.

Secara mendasar, pencantuman sumber kutipan ini mempunyai fungsi sebagai:

  1. Menyusun pembuktian (etika kejujuran dan keterbukaan ilmiah).
  2. Menyatakan penghargaan kepada penulis yang dikutip (etika hak cipta intelektual).

Terdapat dua model pencantuman referensi:

  1. Catatan tubuh (bodynote), dilakukan ketika penulis mencantumkan sumber kutipan langsung setelah selesainya sebuah kutipan dengan menggunakan tanda kurung.
  2. Catatan kaki (footnote), dilakukan apabila penulis mencantumkan nomor indeks di akhir sebuah kutipan, lalu di bagian bawah halaman tersebut (bagian kaki halaman) terdapat keterangan nomor indeks yang menjelaskan sumber kutipan tersebut.

Sebuah tulisan ilmiah harus menggunakan salah satu jenis penulisan referensi tersebut, serta harus konsisten dengan jenis tersebut. Artinya, ketika sebuah tulisan menggunakan bodynote, maka seluruh referensi dari awal hingga akhir tulisan harus menggunakan bodynote. Atau, jika seorang penulis menggunakan catatan kaki, sejak awal hingga akhir tulisan, penulis harus menggunakan catatan kaki untuk menuliskan referensinya.

           

  1. c.    Teknik Menggunakan Catatan Kaki

 

Catatan kaki mempunyai kelebihan dibandingkan dengan catatan tubuh, yaitu:

1).   Catatan kaki mampu menunjukkan sumber referensi dengan lebih lengkap. Dalam cacatan tubuh, yang ditampilkan hanya nama pengarang, tahun terbit buku, serta halaman buku yang dikutip. Dalam catatan kaki, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, nama penerbit, dan halaman dapat dicantumkan semua. Hal ini tentu mempermudah penelusuran bagi pembaca.

2).   Selain sebagai penunjukan referensi, catatan kaki dapat berfungsi untuk memberikan catatan penjelas yang diperlukan. Hal ini tentu tidak dapat dilakukan dengan catatan tubuh.

3).   Catatan kaki dapat digunakan untuk merujuk bagian lain dari sebuah tulisan.

 

Berdasarkan kelebihannya tersebut, catatan kaki bisa berisi:

1).   Penunjukan sumber kutipan (referensi).

2).   Catatan penjelas.

3).   Penunjukan sumber kutipan sekaligus catatan penjelas.

              

Prinsip-prinsip dalam menuliskan catatan kaki:

1)    Catatan kaki dicantumkan di bagian bawah halaman, dipisahkan dengan naskah skripsi oleh sebuah garis. Pemisahan ini akan otomatis dilakukan oleh program Microsoft Word dengan cara mengklik insert, kemudian reference, kemudian footnote.

2)    Nomor cacatan kaki ditulis secara urut pada tiap bab, mulai dari nomor satu. Artinya, cacatan kaki pertama di tiap awal bab menggunakan nomor satu, begitu seterusnya.

3)    Catatan kaki ditulis dengan satu spasi.

4)    Pilihan huruf dalam catatan kaki harus sama dengan pilihan huruf dalam naskah skripsi, hanya ukurannya lebih kecil, yaitu:

ü  Times New Roman (size 10)

ü  Arial (size 9)

ü  Tahoma (size 9)

5)    Baris pertama catatan kaki menjorok ke dalam sebanyak tujuh karakter.

6)    Judul buku dalam catatan kaki ditulis miring (italic).

7)    Nama pengarang dalam catatan kaki ditulis lengkap dan tidak dibalik.

8)    Catatan kaki bisa berisi keterangan tambahan. Pertimbangan utama memberikan keterangan tambahan adalah: jika keterangan tersebut ditempatkan dalam naskah (menyatu dengan naskah) akan merusak alur tulisan atau naskah tersebut. Tidak ada batasan seberapa panjang keterangan tambahan, asalkan proporsional.

 

Buku dengan satu pengarang

Nama pengarang, judul buku (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[1]

 

Buku dengan dua atau tiga pengarang

Nama pengarang 1, nama pengarang 2, nama pengarang 3, judul buku (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[2]

 

Buku dengan banyak pengarang

Nama pengarang pertama, et al., judul buku (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[3]

Perhatikan: hanya nama pengarang pertama yang dicantumkan, nama-nama pengarang lainnya diganti dengan singkatan et al.

 

Buku yang telah direvisi

Nama pengarang, judul buku (rev.ed.; kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[4]

Perhatikan: singkatan rev.ed. menunjukkan bahwa buku tersebut telah mengalami revisi.

 

Buku yang terdiri dua jilid atau lebih

Nama pengarang, judul buku (nomor volume/jilid; kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[5]

 

Buku terjemahan

Nama pengarang asli, judul buku, terj. nama penerjemah (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[6]

Perhatikan: singkatan terj. menunjukkan bahwa buku tersebut telah diterjemahkan dan penulis mengutip dari terjemahan tersebut.

 

Kamus

Nama pengarang, judul kamus (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[7]

 

 

 

Artikel dari sebuah buku antologi

Nama pengarang artikel, ”judul artikel,” judul buku, ed. nama editor (kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit), halaman.[8]

Perhatikan: jika editor satu orang maka menggunakan singkatan ed., namun jika editor dua orang atau lebih menggunakan singkatan eds.

 

Artikel dari sebuah jurnal/majalah ilmiah

Nama pengarang artikel, ”judul artikel,” nama jurnal/majalah ilmiah, edisi jurnal (bulan terbit, tahun terbit), halaman.[9]

 

Artikel dari koran/majalah

Nama pengarang artikel, ”judul artikel,” nama media, tanggal terbit, tahun, halaman.[10]

 

Berita koran/majalah

”Judul berita,” nama media, tanggal terbit, tahun, halaman.[11]

 

Skripsi/Tesis/Disertasi yang belum diterbitkan

Nama penulis, ”judul skripsi/tesis/disertasi,” (level karya, fakultas dan universitas, nama kota, tahun terbit), halaman.[12]

 

Makalah seminar yang tidak diterbitkan

Nama penulis, ”judul makalah,” (forum penyampaian makalah, penyelenggara seminar, nama kota, tanggal seminar, tahun).[13]

 

Dokumen yang tidak diterbitkan

Lembaga yang mengeluarkan dokumen, nama dokumen, (nama kota, tanggal dikeluarkan dokumen, tahun).[14]

 

Artikel dari internet

Nama penulis, ”judul artikel,” alamat lengkap internet (tanggal akses).[15]

Jika artikel di internet tidak mencantumkan nama penulis, maka langsung mengacu pada judul artikel.[16]

 

Pernyataan lisan

Nama narasumber, jenis pernyataan (wawancara atau pidato), tanggal pernyataan dilakukan.[17]

 

Referensi dari sumber kedua

Keterangan lengkap sumber pertama (sesuai dengan aturan catatan kaki), seperti dikutip oleh keterangan lengkap sumber kedua (sesuai aturan catatan kaki).[18]

Perhatikan: frase ”seperti dikutip oleh” menunjukkan bahwa penulis tidak membaca sumber asal (pertama) kutipan, hanya membaca dari orang lain (sumber kedua) yang mengutip sumber pertama.

 

  1. d.    Beberapa Singkatan Khusus dalam Catatan Kaki

 

1)    Ibid.

Singkatan ini berasal dari bahasa latin ibidem yang berarti pada tempat yang sama. Singkatan ini digunakan apabila referensi dalam catatan kaki nomor tersebut sama dengan referensi pada nomor sebelumnya (tanpa diselingi catatan kaki lain). Apabila halamannya sama, cukup ditulis Ibid., bila halamannya berbeda, setelah Ibid. dituliskan nomor halamannya.

 

2)    Op.Cit.

Singkatan ini berasal dari bahasa latin opere citato yang berarti pada karya yang telah dikutip. Singkatan ini digunakan apabila referensi dalam catatan kaki pada nomor tersebut sama dengan referensi yang telah dikutip sebelumnya, namun diselingi catatan kaki lain. Op.Cit. khusus digunakan bagi referensi yang berupa buku.

 

3)    Loc.Cit.

Singkatan ini berasal dari bahasa latin loco citato yang berarti pada tempat yang telah dikutip. Singkatan ini digunakan sama dengan Op.Cit., yaitu apabila referensi dalam catatan kaki pada nomor tersebut sama dengan referensi yang telah dikutip sebelumnya, namun diselingi catatan kaki lain. Namun, referensi yang diacu Loc.Cit. bukan berupa buku, melainkan artikel, baik itu dari koran, majalah, ensiklopedi, internet, atau lainnya.

 

Contoh penggunaan:

1 Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000), hal. 45.

2 Ibid.

3 Ibid., hal. 55.

4 Dedy N. Hidayat, “Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi,” Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia,  No. 2 (Oktober, 1998), hal. 25-26.

5 Ibid., hal. 28.

6  Arthur Asa Berger, Op.Cit., hal. 70.

7 Hubert L. Dreyfus, Paul Rabinow, Beyond Structuralism and Hermeneutics (Chicago: University of Chicago Press, 1982), hal. 72 – 76.

8 Francis Fukuyama, “Benturan Islam dan Modernitas,” Koran Tempo, 22 November, 2001, hal. 45.

9 Robert McChesney, “Rich Media Poor Democracy,” www.thirdworldtraveler.com/Robert_McChesney_page.html (akses 16 Agustus 2006).

10 Arthur Asa Berger, Op.Cit., hal. 96.

11 Ibid.,hal. 99.

12 Ibid.

13 Dedy N. Hidayat, Loc.Cit., hal. 22.

14 Francis Fukuyama, Loc.Cit.

15 Hubert L. Dreyfus, Paul Rabinow, Op.Cit., 58.

16 Dedy N. Hidayat, Loc.Cit., hal. 21.

 

Cara membaca:

        

ü  Catatan kaki nomor (2) menggunakan Ibid., karena sumber kutipannya sama persis dengan nomor (1) baik buku maupun halamannya.

ü  Catatan kaki nomor (3) buku referensinya sama dengan nomor (2), hanya saja beda halamannya.

ü  Catatan kaki nomor (5) referensinya sama dengan nomor (4), hanya saja beda halamannya.

ü  Catatan kaki nomor (6), referensinya sama dengan nomor (1), karena telah diselingi oleh catatan kaki lain, maka menggunakan Op.Cit., serta menuliskan nama pengarang dan halaman.

ü  Catatan kaki nomor (10) referensinya sama dengan nomor (1), karena telah diselingi oleh catatan kaki lain, maka menggunakan Op.Cit.

ü  Catatan kaki nomor (11), referensinya sama dengan catatan kaki sebelumnya, tanpa diselingi catatan kaki lain, yaitu nomor (10), hanya saja beda halamannya.

ü  Catatan kaki nomor (12) referensinya sama persis dengan nomor (11).

ü  Catatan kaki nomor (13) referensinya sama dengan nomor (4), hanya beda halamannya, karena telah diselingi oleh catatan kaki lain dan nomor (4) berbentuk artikel (bukan buku) maka menggunakan Loc.Cit., serta menuliskan halamannya.

ü  Catatan kaki nomor (14) referensinya sama persis, termasuk halamannya, dengan nomor (8), karena telah diselingi oleh catatan kaki lain dan nomor (8) berbentuk artikel (bukan buku) maka menggunakan Loc.Cit.

ü  Catatan kaki nomor (15) referensinya sama dengan nomor (7), hanya beda halaman, karena telah diselingi oleh catatan kaki lain dan nomor (7) berbentuk buku (bukan artikel) maka menggunakan Op.Cit., serta menuliskan halamannya.

ü  Catatan kaki nomor (16) referensinya sama dengan nomor (4), hanya beda halamannya, karena telah diselingi oleh catatan kaki lain dan nomor (4) berbentuk artikel (bukan buku) maka menggunakan Loc.Cit., serta menuliskan halamannya.

 

 

 

 

  1. e.    Teknik Menggunakan Catatan Tubuh

 

Kelebihan catatan tubuh adalah kemudahan bagi pembaca dalam mengecek sumber sebuah kutipan yang langsung terdapat sebelum atau setelah kutipan tersebut, tanpa perlu berpindah ke bagian bawah halaman.

Prinsip-prinsip dalam menuliskan catatan tubuh:

1).   Catatan tubuh menyatu dengan naskah, hanya ditandai dengan kurung buka dan kurung tutup.

2).   Catatan tubuh memuat nama belakang penulis, tahun terbit buku dan halaman yang dikutip. Contoh:

a).   Nama penulis adalah Arthur Asa Berger, maka cukup ditulis Berger.

b).   Nama penulis Jalaluddin Rakhmat, maka cukup ditulis Rakhmat.

3).   Terdapat dua cara menuliskan catatan tubuh:

a).   Nama penulis, tahun terbit dan halaman berada dalam tanda kurung, ditempatkan setelah selesainya sebuah kutipan. Jika kutipan ini merupakan akhir kalimat, maka tanda titik ditempatkan setelah kurung tutup catatan tubuh. Contoh:

Di titik inilah esensi hegemoni: hubungan di antara agen-agen utama yang menjadi alat sosialisasi dan orientasi ideologis, yang berinteraksi, kumulatif, dan diterima oleh masyarakat (Lull, 1995: 31-38).

b).   Nama penulis menyatu dalam naskah tulisan, tidak berada dalam tanda kurung, sementara tahun penerbitan dan halaman berada dalam tanda kurung. Model ini biasanya ditempatkan sebelum sebuah kutipan. Contoh:

Menurut Lull (1995: 31-38), di titik inilah esensi hegemoni: hubungan di antara agen-agen utama yang menjadi alat sosialisasi dan orientasi ideologis, yang berinteraksi, kumulatif, dan diterima oleh masyarakat.

 

Buku dengan satu pengarang

ü  ….. (Lull, 1995: 31 – 38).

ü  Menurut Lull (1995: 31 – 38), …..

 

Buku dengan dua atau tiga pengarang

ü  ….. (Dreyfus dan Rabinow, 1982: 72 – 76).

ü  Dreyfus dan Rabinow (1982: 72 – 76) mengatakan …..

 

Buku dengan banyak pengarang

ü  …… (Ibrahim, et al., 1997: 52 – 54).

ü  …… (Ibrahim, dkk., 1997: 52 – 54).

 

Buku yang terdiri dua jilid atau lebih

ü  ….. (Lapidus, Vol.1, 1988: 131).

ü  Mengacu pada Lapidus (Vol.1, 1988: 131), …..

 

Buku terjemahan

ü  ….. (Berger, terj., Setio Budi, 2000: 44 – 45).

ü  Berger (terj., Setio Budi, 2000: 44 – 45) menandaskan …..

 

 

 

Artikel dari sebuah buku antologi

ü  ….. (Alam, dalam Mastuhu dan Ridwan (eds.), 1998: 77).

ü  Menurut Alam (dalam Mastuhu dan Ridwan (eds.), 1998: 77), …..

Perhatikan: jika editor satu orang maka menggunakan singkatan ed., namun jika editor dua orang atau lebih menggunakan singkatan eds.

 

Artikel dari sebuah jurnal/majalah ilmiah

ü  …… (Hidayat, Jurnal ISKI, No. 2, Oktober 1998: 25-26).

ü  Hidayat (Jurnal ISKI, No. 2, Oktober 1998: 25-26) menyebut …..

 

Artikel dari koran/majalah

ü  ….. (Fukuyama, Koran Tempo, 22 November 2001).

ü   Melandaskan argumen pada Fukuyama (Koran Tempo, 22 November 2001), ……

 

Berita koran/majalah

ü  ….. (Republika, 10 September 2002).

ü  Harian Republika (10 September 2002) memberitakan …..

 

Skripsi/Tesis/Disertasi yang belum diterbitkan

ü  ….. (Nazaruddin, Skripsi, 2004: 205).

ü  Menurut Nazaruddin (Skripsi, 2004: 205), …..

 

Makalah seminar yang tidak diterbitkan

ü  ….. (Nazaruddin, Makalah, 2007).

ü  Dalam makalahnya yang disampaikan dalam Temu Ilmiah Nasional Komunikasi, Nazaruddin (2007) mengatakan, …..

 

Dokumen yang tidak diterbitkan

ü  ….. (U.S. Department of Foreign Affairs, 1998).

ü  Dalam dokumen yang dikeluarkan U.S. Department of Foreign Affairs (1998) disebutkan bahwa …..

 

Artikel dari internet

ü  ….. (Chesney, www.thirdworldtraveler.com/ Robert_McChesney_ page.html, akses 15 Juni 2007).

ü  Mengutip Chesney (www.thirdworldtraveler.com/Robert_ McChesney_page.html, akses 15 Juni 2007), …..

Perhatikan: alamat web yang dicantumkan adalah alamat lengkap, dengan cara copy-paste dari address web secara langsung.

 

Pernyataan lisan

ü  ….. (Samijan, wawancara, 11 November 2006).

ü  Dalam wawancara dengan penulis, Samijan (11 November 2006) mengatakan ……

 

Referensi dari sumber kedua

ü   Menurut Marx (seperti dikutip Takwin, 2000: 44), ……

 

 

 

 

 

  1. f.     Penggunaan Kutipan dan Referensi

 

1).  Kutipan langsung empat baris atau lebih

 

Prinsip-prinsip:

                                  a).      Kutipan dipisahkan dari teks.

                                  b).      Kutipan menjorok ke dalam lebih kurang tujuh karakter. Bila awal kutipan adalah alinea baru, baris pertama kutipan menjorok lagi ke dalam lebih kurang tujuh karakter.

                                  c).      Kutipan diketik dengan spasi satu.

                                 d).      Kutipan diawali dan diakhiri dengan tanda kutip (boleh tidak).

                                  e).      Jika menggunakan catatan tubuh (bodynote), maka cacatan tubuh dicantumkan setelah kutipan. Contoh:

 

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kelas berkuasa bekerja melalui ideologi untuk melanggengkan dominasi mereka? Barangkali penting dikutip di sini bagaimana Marx menjelaskan bekerjanya kelas berkuasa:

“Individu-individu yang menyusun kelas yang berkuasa berkeinginan memiliki sesuatu/kesadaran dari yang lainnya. Ketika mereka memegang peranan sebagai sebuah kelas dan menentukan keseluruhannya dalam sebuah kurun waktu, hal tersebut adalah bukti diri bahwa mereka melakukan tersebut dalam jangkauannya kepada yang lainnya, memegang peranan sekaligus pula sebagai pemikir-pemikir, sebagai pemproduksi ide serta mengatur produksi dan distribusi idenya pada masa tersebut.” (Berger, 2000: 44 – 45)

Dalam contoh di atas, kalimat ”Pertanyaannya kemudian…..bekerjanya kelas berkuasa” adalah naskah skripsi. Kalimat ”Individu-individu…..pada masa tersebut” adalah kutipan langsung dari sebuah buku yang ditulis Arthur Asa Berger, diterbitkan pada tahun 2000, dan kutipan berasal dari halaman 44-45 buku tersebut.

                                   f).      Jika menggunakan catatan kaki (footnote), maka nomor indeks ditempatkan setelah kutipan, lalu di bagian bawah halaman tersebut (bagian kaki halaman) terdapat keterangan nomor indeks yang menjelaskan sumber kutipan tersebut. Contoh:

 

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kelas berkuasa bekerja melalui ideologi untuk melanggengkan dominasi mereka? Barangkali penting dikutip di sini bagaimana Marx menjelaskan bekerjanya kelas berkuasa:

“Individu-individu yang menyusun kelas yang berkuasa berkeinginan memiliki sesuatu/kesadaran dari yang lainnya. Ketika mereka memegang peranan sebagai sebuah kelas dan menentukan keseluruhannya dalam sebuah kurun waktu, hal tersebut adalah bukti diri bahwa mereka melakukan tersebut dalam jangkauannya kepada yang lainnya, memegang peranan sekaligus pula sebagai pemikir-pemikir, sebagai pemproduksi ide serta mengatur produksi dan distribusi idenya pada masa tersebut.” [19]

Dalam contoh di atas, kalimat ”Pertanyaannya kemudian…..bekerjanya kelas berkuasa” adalah naskah skripsi. Kalimat ”Individu-individu…..pada masa tersebut” adalah kutipan. Catatan kaki dalam contoh ini bisa dilengkapi dengan keterangan tambahan.[20]

 

2).  Kutipan langsung kurang dari empat baris

Prinsip-prinsip:

                                  a).      Kutipan tidak dipisahkan dari teks (menyatu dengan teks).

                                  b).      Kutipan harus diawali dan diakhiri dengan tanda kutip.

                                  c).      Jika menggunakan catatan tubuh, contoh:

 

Bagi sebuah kekuasaan resmi negara, salah satu representasi ideologi yang penting terwujud dalam pidato dan pernyataan-pernyataan para penyelenggara kekuasaan negara tersebut, secara khusus adalah seorang presiden ataupun raja yang berkuasa. Hart (1967: 61) mengatakan: “The symbolic dimensions of politics speech-making, for presidents, is a political act, the mechanism for wielding power.”

Dalam contoh di atas, kalimat “Bagi sebuah kekuasaan ….. raja yang berkuasa” adalah naskah skripsi. Kalimat “The symbolic ….. for wielding power” adalah kutipan dari buku yang ditulis R.P. Hart, diterbitkan pada tahun 1967, dan kutipan berasal dari halaman 61 buku tersebut.

 

                                 d).      Jika menggunakan catatan kaki, contoh:

 

Bagi sebuah kekuasaan resmi negara, salah satu representasi ideologi yang penting terwujud dalam pidato dan pernyataan-pernyataan para penyelenggara kekuasaan negara tersebut, secara khusus adalah seorang presiden ataupun raja yang berkuasa. Hart mengatakan: “The symbolic dimensions of politics speech-making, for presidents, is a political act, the mechanism for wielding power.” [21]

Dalam contoh di atas, kalimat “Bagi sebuah kekuasaan ….. raja yang berkuasa” adalah naskah skripsi. Kalimat “The symbolic ….. for wielding power” adalah kutipan. Catatan kaki dalam contoh ini bisa dilengkapi dengan keterangan tambahan. [22]

 

3).   Kutipan tidak langsung.

Prinsip-prinsip:

                                  a).      Kutipan tidak dipisahkan dari teks (menyatu dengan teks).

                                  b).      Kutipan tidak boleh menggunakan tanda kutip.

                                  c).      Jika menggunakan catatan tubuh, contoh:

 

Media bukanlah sarana netral yang menampilkan berbagai ideologi dan kelompok apa adanya, media adalah subjek yang lengkap dengan pandangan, kepentingan, serta keberpihakan ideologisnya. Janet Woollacott dan David Barrat menegaskan pandangan para teoritis Marxis bahwa ideologi yang dominanlah yang akan tampil dalam pemberitaan (Wollacott,  1982: 109, Barrat, 1994: 51-52). Media berpihak pada kelompok dominan, menyebarkan ideologi mereka sekaligus mengontrol dan memarginalkan wacana dan ideologi kelompok-kelompok lain.

Dalam contoh di atas, pernyataan bahwa ”ideologi yang dominan yang akan tampil dalam pemberitaan” adalah inti pendapat dari James Wollacott dan David Barrat yang penulis sajikan dalam bahasa sendiri.

 

                                 d).      Jika menggunakan catatan kaki, contoh:

 

 Media bukanlah sarana netral yang menampilkan berbagai ideologi dan kelompok apa adanya, media adalah subjek yang lengkap dengan pandangan, kepentingan, serta keberpihakan ideologisnya. Janet Woollacott dan David Barrat menegaskan pandangan para teoritis Marxis bahwa ideologi yang dominanlah yang akan tampil dalam pemberitaan.[23] Media berpihak pada kelompok dominan, menyebarkan ideologi mereka sekaligus mengontrol dan memarginalkan wacana dan ideologi kelompok-kelompok lain.

Dalam contoh di atas, catatan kaki bisa dilengkapi dengan keterangan tambahan. [24]

 

7.   Daftar Pustaka

 

Daftar pustaka/bibliografi adalah daftar yang berisi buku, artikel, dokumen, dan segenap kepustakaan lainnya yang digunakan dalam menyusun sebuah tulisan ilmiah, ditempatkan di bagian terakhir (halaman terpisah/tersendiri) dari tulisan ilmiah tersebut. Daftar pustaka atau bibliografi mutlak ada dalam sebuah karya ilmiah, menunjukkan sifat referensial atas karya tersebut. Bibliografi disusun secara alfabetis (Lampiran VI.3).

Unsur-unsur dalam sebuah daftar pustaka:

ü  Nama pengarang (ditulis secara terbalik).

ü  Judul buku (termasuk judul tambahannya).

ü  Data publikasi (tempat terbit, nama penerbit, tahun terbit).

ü  Nama pengarang artikel dan judul artikel (untuk artikel).

ü  Data publikasi media, untuk artikel di media (nama media, tanggal terbit).

ü  Alamat lengkap internet dan waktu akses (untuk bahan dari internet).

 

Cara penyusunan daftar pustaka:

 

Buku dengan satu pengarang

 

Nama pengarang (dibalik). Judul buku.Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit.

Barrat, David. Media Sociology.London and New York: Routledge, 1994.

 

Buku dengan dua atau tiga pengarang

 

Nama pengarang 1 (dibalik), nama pengarang 2 (tidak dibalik), nama pengarang 3 (tidak dibalik). Judul buku. Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit.

Dreyfus, Hubert L., Paul Rabinow. Beyond Structuralism and Hermeneutics.Chicago: University of Chicago Press, 1982.

 

Buku dengan banyak pengarang

 

Nama pengarang 1 (dibalik), et.al. Judul buku. Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit.

Ibrahim, Idi Subandi, et.al. Hegemoni Budaya. Yogyakarta: Bentang, 1997.

 

Buku yang telah direvisi

 

Nama pengarang (dibalik). Judul buku. Rev.ed. Kota penerbit: nama penerbit,  tahun terbit.

Rakhmat, Jalaluddin. Psikologi Komunikasi. Rev.ed. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003.

 

Buku yang terdiri dua jilid atau lebih

 

Nama pengarang (dibalik). Judul buku. Volume/Jilid. Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit.

Lapidus, Ira M. A History of Islamic Societes. Vol.1. Cambridge: Cambridge University Press, 1988.

 

 

Buku terjemahan

 

Nama pengarang asli (dibalik). Judul buku, terj. nama penerjemah. Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit.

Berger, Arthur Asa. Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi HH. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000.

 

Kamus

 

Nama pengarang kamus (dibalik). Judul kamus. Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit.

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994.

 

Artikel dari sebuah buku antologi

 

Nama pengarang artikel (dibalik). ”Judul artikel,” Judul buku, ed. nama editor. Kota penerbit: nama penerbit, tahun terbit.

Alam, Rudi Harisyah. “Perspektif Pasca-Modernisme dalam Kajian Keagamaan,” Kajian Keagamaan dalam Tradisi Baru Penelitian Agama Islam Tinjauan Antardisiplin Ilmu, eds.  Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed., M. Deden Ridwan. Bandung: Penerbit Nuansa dan PUSJARLIT, 1998.

 

Perhatian: jika editor satu orang maka menggunakan singkatan ed., namun jika editor dua orang atau lebih menggunakan singkatan eds.

 

Artikel dari sebuah jurnal/majalah ilmiah

 

Nama pengarang artikel (dibalik). ”Judul artikel,” Nama jurnal/majalah ilmiah, edisi jurnal (bulan terbit, tahun terbit), halaman.

Hidayat, Dedy N. “Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi,” Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia,  II (Oktober, 1998), hal. 32-43.

 

Perhatian: halaman yang dimaksud di daftar pustaka ini adalah halaman dari awal sampai akhir tempat artikel berada dalam jurnal/majalah ilmiah, bukan halaman yang dikutip.

 

Artikel dari koran/majalah

 

Nama pengarang artikel (dibalik). ”Judul artikel,” Nama media, tanggal dan tahun terbit.

Fukuyama, Francis. “Benturan Islam dan Modernitas,” Koran Tempo, 22 November 2001.

 

Berita koran/majalah

 

”Judul berita,” Nama media, tanggal dan tahun terbit.

“Islam di AS Jadi Agama Kedua,” Republika, 10 September 2002.

 

 

 

 

Skripsi/Tesis/Disertasi yang belum diterbitkan

 

Nama penulis (dibalik). ”Judul skripsi/tesis/disertasi.” Level karya, fakultas dan universitas, nama kota, tahun terbit.

Nazaruddin, Muzayin. “War Against Terrorism: Critical Discourse Analysis.” Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2004.

 

Makalah seminar yang tidak diterbitkan

 

Nama penulis (dibalik). ”Judul makalah.” Forum penyampaian makalah, penyelenggara seminar, nama kota, tahun.

Nazaruddin, Muzayin. “Dua Tipe Perempuan dalam Film dan Sinetron Mistik Indonesia.” Makalah disampaikan dalam Temu Ilmiah Nasional, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta, 2007.

 

Dokumen yang tidak diterbitkan

 

Lembaga yang mengeluarkan dokumen. Nama dokumen.Nama kota, tanggal dan tahun dikeluarkan dokumen.

U.S. Department of Foreign Affairs. Testimony by John. J. Maresca, Vice President International Relations Unocal Corporation to House Committee on International Relations Subcommittee on Asia and The Pacific. Washington D.C., 12 February 1998.

 

Artikel di internet

 

Nama penulis (dibalik). ”Judul artikel.” Alamat lengkap internet (waktu akses).

McChesney, Robert. “Rich Media Poor Democracy.” www.thirdworldtraveler.com/Robert_McChesney_page.html (akses 16 Agustus 2006).

 

”Judul artikel.” Alamat lengkap internet (waktu akses).

“Pengelolaan Bencana: Pengelolaan Kerentanan Masyarakat.” www.walhi.or.id/kampanye/bencana (akses 17 Agustus 2006).

 

*sumber : http://www.google.com


[1] David Barrat, Media Sociology (London and New York: Routledge, 1994), hal. 273.

[2] Hubert L. Dreyfus, Paul Rabinow, Beyond Structuralism and Hermeneutics (Chicago: University of Chicago Press, 1982), hal. 72 – 76.

[3] Idi Subandi Ibrahim, et al., Hegemoni Budaya (Yogyakarta: Bentang, 1997), hal. 52 – 54.

[4] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (rev.ed.; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), hal. 55.

[5] Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societes (Vol.1; Cambridge: Cambridge University Press, 1988), hal. 131.

[6] Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi HH. (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000), hal. 44 – 45.

[7] Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994), hal. 595.

[8] Rudi Harisyah Alam, “Perspektif Pasca-Modernisme dalam Kajian Keagamaan,” Kajian Keagamaan dalam Tradisi Baru Penelitian Agama Islam Tinjauan Antardisiplin Ilmu, eds.  Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed., M. Deden Ridwan (Bandung: Penerbit Nuansa dan PUSJARLIT, 1998), hal. 67-77.

[9] Dedy N. Hidayat, “Paradigma dan Perkembangan Penelitian Komunikasi,” Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia,  No. 2 (Oktober, 1998), hal. 25-26.

[10] Francis Fukuyama, “Benturan Islam dan Modernitas,” Koran Tempo, 22 November, 2001, hal. 4.

[11] “Islam di AS Jadi Agama Kedua,” Republika, 10 September, 2002, hal. 6.

[12] Muzayin Nazaruddin, “War Against Terrorism: Critical Discourse Analysis,” (Skripsi Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2004), hal. 205.

[13] Muzayin Nazaruddin, “Dua Tipe Perempuan dalam Film dan Sinetron Mistik Indonesia,” (Makalah disampaikan dalam Temu Ilmiah Nasional, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Jakarta, 26 – 28 Juni, 2007).

[14] U.S. Department of Foreign Affairs, Testimony by John. J. Maresca, Vice President International Relations Unocal Corporation to House Committee on International Relations Subcommittee on Asia and The Pacific (Washington D.C., 12 February, 1998).

[15] Robert McChesney, “Rich Media Poor Democracy,” www.thirdworldtraveler.com/Robert_McChesney_page.html (akses 16 Agustus 2006).

[16] “Pengelolaan Bencana: Pengelolaan Kerentanan Masyarakat,” www.walhi.or.id/kampanye/bencana (akses 17 Agustus 2006).

[17] Samijan, wawancara dengan penulis, 11 November 2006.

[18] Karl Marx, Selected Writings in Sociology and Social Philosophy, eds. T.B. Bottomore and Maximilien Rubel (New York: McGraw-Hill, 1964), hal. 78, seperti dikutip oleh Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi HH. (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000), hal. 44 – 45.

[19] Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000), hal. 44 – 45.

[20] Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, terj. Setio Budi (Yogyakarta: Penerbitan Universitas Atma Jaya, 2000), hal. 44 – 45. Cukup jelas, Marx menawarkan gagasan bahwa ide-ide atau gagasan pada suatu masa adalah yang disebarluaskan dan dipopulerkan oleh kelas berkuasa sesuai kepentingannya. Kelas penguasa itu, seperti ditegaskan Marx, merupakan pemikir, pemproduksi ide sekaligus mengatur distribusi idenya. Dalam hal produksi dan penyebarluasan ide inilah kita bisa mengurai saling keterkaitan antara kelas penguasa, ideologi, wacana dan media.

[21] R.P. Hardt, The Sound of Leadership: Presidential Communication in the Modern-Age (Chicago: Chicago University Press, 1987), hal. 61. 

[22] Pada dasarnya tiap pemimpin politik selalu menciptakan bahasa politik yang menjadi kekuatan utama konsolidasi simbolik dalam rangka mendukung politik dijalankan serta meneguhkan ideologi kekuasaan. Dalam sebuah studinya mengenai pidato kemenangan presiden di Amerika, Corcohan menunjukkan bahwa tiap presiden ternyata mempunyai gaya bahasa serta strategi wacana yang berbeda. Lihat lebih jauh di R.P. Hardt, The Sound of Leadership: Presidential Communication in the Modern-Age (Chicago: Chicago University Press, 1987), hal. 61. 

[23] David Barrat, Media Sociology (London and New York: Routledge, 1994), hal. 51-52. Lihat juga Janet Wollacott, “Message and Meanings”, dalam Culture, Society and the Media, eds. Michael Gurevitch, James Curran and James Wollacott(London: Methuen, 1982), hal. 109.

[24] Keberpihakan media akan menampilkan kelompok dominan dalam pemberitaan. Lebih jauh, media bukan hanya alat bagi ideologi dominan, tetapi juga memproduksi ideologi dominan itu sendiri. Lihat David Barrat, Media Sociology (London and New York: Routledge, 1994), hal. 51-52. Lihat juga Janet Wollacott, “Message and Meanings”, dalam Culture, Society and the Media, eds. Michael Gurevitch, James Curran and James Wollacott(London: Methuen, 1982), hal. 109.

MANFAAT YOGHURT

Yoghurt adalah susu yang dibuat melalui fermentasi bakteri dan dapat dibuat dari susu apa saja, bahkan susu kacang kedelai. Yoghurt mengandung probiotik, bakteri baik yang membantu proses pencernaan. Tak hanya enak, ternyata yoghurt juga memiliki manfaat lain yang jarang diketahui.

Berikut manfaatnya seperti dikutip dari Health.com, Jum’at (9/12/2011).

Meremajakan wajah
Tidak perlu biaya mahal untuk merawat kulit agar terlihat sempurna. Yogurt mengandung asam laktat, yang merupakan komponen dalam prenting bahan kimia untuk pergantian kulit.

“Pengelupasan lapisan atas kulit dapat membersihkan noda dan menyebabkan perubahan warna, bahkan dapat mengurangi kerutan-kerutan halus,” kata dermatolog, Hema Sundaram, MD.

Caranya sederhana: Campurkan 1 cangkir yoghurt Yunani dengan 2 – 3 tetes minyak almond atau minyak zaitun dan satu sendok makan madu. Oleskan ke wajah dan biarkan selama 20 – 30 menit, lalu bilas dan keringkan. Hasilnya, kulit wajah akan lebih bercahaya

Pembersih yang ramah lingkungan
“Perabotan dari kuningan dapat berkilau kembali menggunakan yoghurt. Asam laktat-nya juga berfungsi menggerogoti kotoran,” kata pakar lingkungan, Annie Bond, penulis buku ‘Better Basics for the Home’.

Untuk membuat barang kuningan terlihat baru lagi, gunakan teknik pembersihan yang diajarkan Ms. Bond. Usap seluruh bagian dengan kain basah, lalu tuangkan beberapa sendok makan yogurt ke kain bersih dan gosokkan ke permukaan perabot sampai mengkilap.

Lap sisa-sisa yoghurt, cuci dengan sabun dan air panas, dan kilapkan dengan kain bersih untuk melihat seberapa berkilaunya perabot kuningan tersebut.

Membantu pencernaan
“Yoghurt dapat membantu masalah perut. Probiotik (jenis bakteri yang menguntungkan) terkandung dalam beberapa yogurt menyeimbangkan mikroflora dalam usus dan dapat membantu pencernaan serta menjaga tubuh tetap fit,” kata Robin Plotkin, RD, ahli kuliner dan gizi.

Untuk mendapat manfaatnya, pastikan yoghurt mengandung setidaknya satu miliar unit pembentuk koloni (colony-forming units atau CFUs) probiotik hidup. Informasi ini biasanya tersedia di situs-situs merk Yoghurt terkenal.

Menjaga jantung tetap sehat
“Yoghurt juga baik untuk jantung sebab rendah lemak, bahkan bebas lemak. Mengonsumsinya dapat membantu menurunkan risiko terserang tekanan darah tinggi,” kata Alvaro Alonso, MD, PhD, profesor di University of Minnesota Sekolah Kesehatan Masyarakat.

Protein khusus dalam susu mengatur tekanan darah, kadar kalsium, magnesium, potasium, dan menyebabkan efek penurun tekanan darah.

 

*sumber : http://www.detik.com / http://www.google.com

RESEP RAINBOW CAKE DAN CARA MEMBUATNYA

Resep Rainbow Cake sebenarnya tidak susah kok untuk membuatnya asalkan kita tahu video tutorialnya terlebih dahulu sehingga urutan pembuatannya tidak salah. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah buku petunjuk. Kalau dapat dari internet gampang banget, akses melalui handphone atau cetak menggunakan print dalam kertas kalau ingin irit catat dengan ballpoint. Carilah bahan yang ada dalam Resep rainbow cakeselengkap mungkin jangan sampai ada yang ketinggalan agar saat proses pembuatan tidak terganggu. Selain bahan juga harus menyiapkan kompor gas, oven, dan celemek.

Jika semua sudah siap barulah masuk ke cara membuat rainbow cake. Dimana kita harus membaca catatan yang sudah kita buat tadi. Pahami betul setiap kata yang tertera, bacalah dengan teliti dan resapi tiap katanya. Saat membaca jangan putus – putus karena dikhawatirkan keluar dari maksud penulis. Memasuki cara membuat rainbow cake yang harus kita lakukan adalah tetap menjaga waktu secara tepat sehingga benar – benar jadi seperti yang kita inginkan.
Bahan Bahan Rainbow Cake:

  • 100 gram tepung terigu
  • 75 gram gula pasir
  • 10 gram susu bubuk
  • 100 gram mentega, dilelehkan
  • 5 putih telur
  • 3 kuning telur
  • 1/4 sdt garam
  • 1 sdt emulsifier/TBM
  • Pewarna makanan merah, jingga, kuning, hijau, biru dan ungu secukupnya
  • Topping/Olesan Kue:
  • Butter cream warna putih atau whip cream
  • Meises warna warni, permen cokelat warna-warni, atau butiran hundreds and thousand untuk taburan, sesuai selera Anda.

Cara Membuat Rainbow cake:

  • Kocok telur, gula pasir, garam dan emulsifier sampai mengembang, matikan mixer.
  • Masukkan sedikit demi sedikit tepung terigu dan susu bubuk yang telah diayak, aduk rata.
  • Tambahkan mentega cair sedikit demi sedikit, aduk rata.
  • Bagi adonan menjadi enam bagian dalam wadah terpisah, masih-masing beri pewarna makanan yang berbeda.
  • Tuang satu adonan dalam loyang bundar dengan diameter 22 cm. Olesi loyang dengan mentega tipis.
  • Panggang selama 25 menit dengan suhu 180 derajat celsius atau sampai matang.
  • Lakukan hal yang sama pada adonan lain hingga enam cake matang.
  • Susun cake dengan warna ungu pada bagian bawah, oles dengan butter cream atau whip cream, lalu tumpuk dengan cake warna biru. Lakukan hal yang sama dengan urutan ungu, biru, hijau, kuning, jingga dan merah.
  • Tutup semua bagian luar kue dengan dengan butter cream atau whip cream.
  • Taburi dengan meises warna warni, permen cokelat warna-warni atau butiran hundreds and thousand untuk taburan, sesuai selera Anda.
  • Rainbow cake siap dihidangkan, akan terlihat cantik saat Anda memotongnya

Ada beberapa resep rainbow cake yang ditujukan untuk acara khusus seperti saat natal, tahun baru, ulang tahun, atau bisa saat lebaran ketupat. Nah, untuk hari – hari tersebut Anda bisa menyesuaikan taburan yang ada di atas kue sehingga terlihat lebih menarik. Bila yang disajikan saat ulang tahun maka taruhlah lilin dan aneka permen warna warni sebagai hiasan agar orang terkagum – kagum dengan resep rainbow cake.

*sumber : http://www.google.com

MANFAAT MADU

Aktifitas mengumpulkan madu konon sudah berlangsung sejak 10.000 tahun yang lalu. Bukti yang mengandung pendapat ini adalah temuan gambar pada dinding di sebuah gua di Valensia, Spanyol. Gambar tersebut memperlihatkan dua laki-laki menggunakan tangga yang terbuat dari sejenis rumput liar sedang meraih sarang lebah berisi madu. Pada awalnya, manusia lebih memanfaatkan madu sebagai makanan. Kemudian, pemakaian madu tidak lagi terbatas hanya dikonsumsi sebagai pemanis.

Berikut Khasiat Madu

1. Madu untuk Sumber energi

Pada masa lalu, para atlet Romawi dan Yunani kuno meminum madu sebelum dan sesudah bertanding sebagai obat untuk stamina dan pemulih energi. Selama berabad-abad madu memang dikenal sebagai bahan bakar para olahragawan ini karena madu mengandung gula yang cepat diserap oleh sistem pencernaan jadi madu adalah sumber energi instan. Hingga kini, dalam dunia olahraga madu diberikan sebelum pertandingan dan sebagai pengganti karbohidrat yang digunakan pada saat latihan.

2. Madu Seefektif glukosa

Hasil riset yang dikeluarkan sebuah jurnal kesehatan menyebutkan kadar glycemic index (GI ukuran untuk mengukur dampak negatif makanan dalam gula darah) yang rendah pada madu memperlambat penyerapan gula dalam darah sehingga lebih menyehatkan sistem pencernaan dan menjamin ketersediaan karbohidrat selama berolahraga. Sementara itu, Laboratorium Nutrisi di Universitas Mempish menyatakan bahwa madu seefektif glukosa pengganti karbohidrat selama pemanasan.

3. Madu untuk Penyembuh luka

Dalam dunia pengobatan masyarakat Yunani dan Romawi memelopori penggunaan madu untuk mengobati hidung tersumbat sementara itu bangsa mesir kuno menjadi pelopor pemanfaatan madu untuk mengobati luka. Mereka membuat salep dari madu untuk mengobati luka bakar dan luka akibat tusukan benda tajam.

4. Madu Sebagai antibiotik

Setelah ribuan tahun digunakan, khasiat madu sebagai obat luka terungkap secara ilmiah. Madu bekerja sebagai antibiotik alami yang sangggup mengalahkan bakteri mematikan. Madu sangat asam sehingga tidak cocok untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri. Madu menghasilkan hidrogen peroksida yang merupakan anti septik luar biasa. Proses osmosis di dalam madu membasmi bakteri kekentalan madu yang sedikit mengandung air menghasilkan proses osmosis menyerap air dari bakteri pada luka dan luka bakar, tak ubahnya spons menyerap air. Madu mengeringkan bakteri sehingga bakteri sulit tumbuh.

5. Madu untuk Membunuh kuman

Kandungan gizi yang luar biasa antara lain asam amino bebas dalam madu mampu membantu penyembuhan penyakit. Madu mengandung zat antibiotik yang berguna untuk mengalahkan kuman patogen penyebab panyakit infeksi. Mengikuti bangsa mesir kuno setelah menempuh kajian untuk menemukan fakta ilmiah, salep madu untuk luka kini di produksi di Australia.

6. Madu untuk Terapi

Bangsaa Mesir dikenal paling piawai meramu obat dari bahan-bahan alami. Madu termasuk dalam 500 resep obat dari 900 resep yang diketahui. Pengobatan modern yang mengacu pada terapi kuno penggunaan madu dari Mesir puas dengan hasilnya.

7. Madu untuk Mengobati borok

RS Universitas Wisconsin Medical School and Public Health misalnya, Menerapkan terapi madu bagi borok yang diderita penderita diabetes. Uji coba terhadap seorang pasien berusia 79 tahun berhasil menyembuhkan borok pada jari kakinya. Sang pasien bahkan tidak jadi diamputasi berkat terapi madu tersebut.

8. Madu untuk Antioksidan

Di Selandia Baru, terapi madu berhasil menyembuhkan lecet pada punggung pasien yang terlalu lama terbaring di ranjang rumah sakit. Di Uni Emirat Arab, terapi madu untuk luka akibat herpes bibir dan alat kelamin mempercepat penyambuhan dan mengurangi rasa sakit. Sementara itu untuk membuktikan peran madu sebagai antioksidan peneliti di Universitas California membuktikan konsumsi madu mampu meningkatkan antioksidan dalam darah. Uji coba pada tikus untuk mengkaji kemampuan madu meningkatkan penyerapan kalsium memberikan hasil memuaskan. Riset di Universitas Purdue itu menyimpulkan, konsumsi suplemen kalsium bersama madu mampu meningkatkan penyerapan kalsium oleh tubuh.

9. Madu untuk Awet muda

Mengapa Ibu Suri Kerajaan Inggris dan Ratu Elizabeth berumur panjang? Bisa diyakini, madu berperan besar dalam menjaga kesehatan sehingga membuat keduannya berumur panjang. Bagi keluarga Kerajaan inggris, sarapan madu adalah kebiasaan setiap hari mereka mengoleskan madu berkualitas tinggi pada roti. Manis alami madu digunakan di Inggris hingga pertengahan abad ke-17. Kebiasaan tersebut sempat berubah ketika gula yang dianggap lebih berkelas mulai di produksi. Namun setelah gula semakin meluas pemakaiannya tak lagi terbatas pada kalangan atas, keluarga kerajaan kembali mengkonsumsi madu. Itulah sebabnya kesehatan mereka terjaga dengan baik.

 

*sumber : http://www.google.com

TUGAS II (TATA CARA DAN ETIKA MENULIS DALAM BLOG)

Etika adalah suatu keharusan dari tiap-tiap manusia untuk memahami suatu aspek atau aturan yang ada pada setiap tempat. Etika atau sopan santun diharuskan dimiliki oleh setiap individu makhluk sosial atau manusia. Bila pengetahuan etika tidak dimiliki oleh setiap insan maka, akan berpengaruh buruk pada moral nantinya. Etika bukan saja harus di pelajari pada kenyataan atau dunia nyata, melainkan pada dunia maya atau internet etika pun harus ada dan perlu diterapkan. Etika menulis di internet adalah suatu ke sopanan menulis yang meliputi ketentuan-ketentuan tertentu yang mengharuskan si penulis memenuhi syarat-syarat tertentu dalam menulis di internet. Kita tidak bisa seenaknya saja dalam melakukan penulisan, jika kita masih mencari sumber tulisan kita melalui media internet. Tentunya kita wajib mencantumkan sumber dari mana kita dapatkan teori untuk tulisan yang kita buat. Untuk menghindari hal-hal yang di katakan plagiarisme dalam suatu hasil karya tulisan ataupun karya-karya yang lainnya.

Etika dalam menulis di dunia maya tergolong pada 3 bagian menurut Prof. DR. Nina W. Syam, M.S , diantaranya adalah :

1.      Etika Deskriptif

Cara melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas. Ia bersifat netral dan hanya memaparkan moralitas yang terdapat pada individu, kebudayaan, atau subkultur tertentu.

2. Etika Normatif

Mendasarkan pada norma, mempersoalkan apakah norma bisa diterima seseorang/masyarakat secara kritis, menyangkut apakah sesuatu itu benar/tidak. Terbagi 2, yaitu Umum dan Khusus.

Umum: menekankan pada tema-tema umum seperti mengapa norma mengikat? Bagaimana hubungannya antara tanggung jawab dan kebebasan? Dll.

Khusus: upaya untuk menerapkan prinsip-prinsip etika umum ke dalam perilaku manusia.

3. Metaetika

Menganalisis logika perbuatan dalam kaitannya dengan ‘baik’ atau ‘buruk’.

Tata cara untuk menulis di dunia maya, meliputi banyak hal yang harus diperhitungkan agar etika dalam menulis yang dimaksud dapat terpenuhi. Adapun tata cara tersebut meliputi :

1.      Mencantumkan sumber dari mana kita dapatkan teori yang menunjang pada tulisan yang dibuat

2.      Meminta izin

3.      Menulis tulisan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar

4.      Tidak memposting tulisan atau hal-hal yang bersifat pornografi, menghina, mencemarkan nama baik dsb

Tulisan etika menulis di internet ini adalah pendapat pribadi tentang sopan santun menulis di dunia maya. Dunia maya juga memiliki aturan-aturan dan sopan santun yang harus kita pahami. Sering sekali seseorang dengan seenak hati menulis di blog,mengirimkan pesan melalui email,atau megirimkan atau mempublishdokumen elektronis lainnya (gambar,video,tulisan,dan bentuk-bentuk lainnya) tanpa memperhatikan aturan dan etikanya.

penulisan artikel yang baik dan sesuai dengan tata cara kesopanan dalam penggunaan internet seperti yang terdapat di blog- blog, antara lain :

1. Tampilan karya menarik (tidak terlalu kaku)

Menulis artikel di blog-blog merupakan  suatu ide dan pemikiran pribadi, dan berbeda dengan hasil karya tulisan orang lain. Hasil karya tulisan atau artikel kita akan semakin baik apabila ada yang mengomentari tulisan kita, karena dengan semakin banyak orang berkomentar maka tentunya tulisan kita juga akan semakin terkenal. Oleh sebab itu, jangan terlalu kaku dalam membuat suatu karya tulis, dan juga berusaha unuk menampilkan suatu tampilan yang menarik sehingga orang lain akan terlihat terhibur dan tertarik ketika membaca tulisan kita.

2. Mudah di mengerti

Disini kita tentunya berusaha sebaik mungkin agar  bahasa yang digunakan dalam tulisan mudah di mengerti oleh para pembaca blog-blog kita nantinya.Oleh sebab itu, jangan menuliskan bahasa yang sulit dipahami dan dimengerti. Hal tersebut dapat mengurangi daya tarik dan minat dari pembaca yang mengunjungi website kita.

3. Jangan mencheat karya tulisan orang lain

Mencheat atau biasa yang kita sebut dengan copy paste merupakan sesuatu hal yang curang yaitu dengan cara  mengotak-atik karya tulis orang lain kemudian memindahkan ke karya tulis kita sendiri. Hal ini jelas tidak diperbolehkan, selain disebut sebagai  plagiat juga sangat merugikan orang lain. Perbuatan  ini harus dijadikan kasus yang seriuskarena bila dibiarkan akan terus menjamur  dan  akan memberi dampak yang negative bagi pelajar. Oleh karena itu, hapuskan budaya buruk mencontek bangsa kita dan berusahalah untuk membuat karya tulis sendiri serta mulailah untuk menghargai karya orang lain di internet .

4. Harus sesuai etika dan norma-norma

Penulisan  terhadap suatu artikel haruslah sesuai dengan norma-norma kesopanan, karena dengan memperhatikan hal ini maka tentu akan banyak pembaca yang nantinya akan menyukai isi dari buah tulisan kita yang melakukan dengan berbagai cara salah satunya dengan cara mengkritik ataupun memberi  saran ke blog ataupun website kita.

5. Dapat memberi inspirasi

Buatlah suatu karya tulis yang isinya menarik dan memberikan suatu inspirasi untuk kepentingan umum, mungkin dengan adanya inspirasi dari kita akan membuat suatu perubahan yang lebih baiik ke depannya. Hal ini akan membuat si pembaca merasa terkesan dan juga akan memberikan dampak yang positif bagi orang lain yang membacanya.

6. Memberi manfaat bagi pembaca

Untuk membuat artikel atau karya tulis yang baik  selain memuat bahasa dan tata cara yang baik juga haruslah dapat memberikan suatu manfaat bagi si pembaca. Hal ini dapat berupa sebuah solusi atau saran bagi pembaca yang bertanya ataupun bagi yang kurang mengerti dari tulisan kita. Bila semua aspek itu telah kita miliki dalam penulisan karya tulis, maka bukan tidak mungkin karya kita akan diberikan applause dari pembaca dan tentunya karya tulis kita akan menjadi terkenal.

7. Penulisan daftar pustaka dari internet

Untuk pustaka yang diperoleh melalui internet selain tahun terbit, dicantumkan pula Tanggal Akses kita membukanya.

*sumber : http://www.google.com


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.