Pengantar Bisnis

Septi Mariani Tis’a Ramadani

Disusun Oleh :

  • Alfian Nurmansyah (20210534)
  • R. Syah Alam Putra (25210485)
  • Sita Bungadia (26210575)

Kata Pengantar

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh SWT. bahwa penulis telah menyelesaikan tugas mata kuliah Pengantar Bisnis dengan membahas franchise dalam bentuk makalah.

Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Ibu dosen bidang studi Pengantar Bisnis yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.
  2. Orang tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai.

Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amiin.

Pendahuluan

Franchising (pewaralabaan) pada hakekatnya adalah sebuah konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan usaha secara cepat. Dengan demikian, franchising bukanlah sebuah alternatif melainkan salah satu cara yang sama kuatnya, sama strategsinya dengan cara konvensional dalam mengembangkan usaha. Bahklan sistem franchise dianggap memiliki banyak kelebihan terutama menyangkut pendanaan, SDM dan managemen, keculai kerelaan pemilik merek untuk berbagi dengan pihak lain. Franchising juga dikenal sebagai jalur distribusi yang sangat efektif untuk mendekatkan produk kepada konsumennya melalui tangan-tangan franchisee.

Di Indonesia franchise dikenal sejak era 70an ketika masuknya Shakey Pisa, KFC, Swensen dan Burger King. Perkembangannya terlihat sangat pesat dimulai sekitar 1995. Data Deperindag pada 1997 mencatat sekitar 259 perusahaan penerima waralaba di Indonesia. Setelah itu, usaha franchise mengalami kemerosotan karena terjadi krisis moneter. Para penerima waralaba asing terpaksa menutup usahanya karena nilai rupiah yang terperosok sangat dalam. Hingga 2000, franchise asing masih menunggu untuk masuk ke Indonesia. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi dan politik yang belum stabili ditandai dengan perseteruan para elit politik. Barulah pada 2003, usaha franchise di tanah air mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Franchise pertama kali dimulai di Amerika oleh Singer Sewing Machine Company, produsen mesin jahit Singer pada 1851. Pola itu kemudian diikuti oleh perusahaan otomotif General Motor Industry yang melakukan penjualan kendaraan bermotor dengan menunjuk distributor franchise pada tahun 1898. Selanjutnya, diikuti pula oleh perusahaan-perusahaan soft drink di Amerika sebagai saluran distribusi di AS dan negara-negara lain. Sedangkan di Inggris waralaba dirintis oleh J Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg pada dekade 60an.

*Definisi

Masing-masing negara memiliki definisi sendiri tentang waralaba. Amerika melalui International Franchise Association (IFA) mendefinisikan franchise sebagai hubungan kontraktual antara franchisor dengan franchise, dimana franchisor berkewajiban menjaga kepentingan secara kontinyu pada bidang usaha yang dijalankan oleh franchisee misalnya lewat pelatihan, di bawah merek dagang yang sama, format dan standar operasional atau kontrol pemilik (franchisor), dimana franchisee menamankan investasi pada usaha tersebut dari sumber dananya sendiri.

Sedangkan menurut British Franchise Association sebagai garansi lisensi kontraktual oleh satu orang (franchisor) ke pihak lain (franchisee) dengan:

  1. Mengijinkan atau meminta franchisee menjalankan usaha dalam periode tertentu pada bisnis yang menggunakan merek yang dimiliki oleh franchisor.
  2. Mengharuskan franchisor untuk melatih kontrol secara kontinyu selama periode perjanjian.

3.      Mengharuskan franchisor untuk menyediakan asistensi terhadap franchisee pada subjek bisnis yang dijalankan—di dalam hubungan terhadap organisasi usaha franchisee seperti training terhadap staf, merchandising, manajemen atau yang lainnya.

4.      Meminta kepada franchise secara periodik selama masa kerjasama waralaba untuk membayarkan sejumlah fee franchisee atau royalti untuk produk atau service yang disediakan oleh franchisor kepada franchisee.

Sejumlah pakar juga ikut memberikan definisi terhadap waralaba. Campbell Black dalam bukunya Black’s Law Dict menjelaskan franchise sebagai sebuah lisensi merek dari pemilik yang mengijinkan orang lain untuk menjual produk atau service atas nama merek tersebut.

David J.Kaufmann memberi definisi franchising sebagai sebuah sistem pemasaran dan distribusi yang dijalankan oleh institusi bisnis kecil (franchisee) yang digaransi dengan membayar sejumlah fee, hak terhadap akses pasar oleh franchisor dengan standar operasi yang mapan dibawah asistensi franchisor.

Sedangkan menurut Reitzel, Lyden, Roberts & Severance, franchise definisikan sebagai sebuah kontrak atas barang yang intangible yang dimiliki oleh seseorang (franchisor) seperti merek yang diberikan kepada orang lain (franchisee) untuk menggunakan barang (merek) tersebut pada usahanya sesuai dengan teritori yang disepakati.

Selain definisi menurut kacamata asing, di Indonesia juga berkembang definisi franchise. Salah satunya seperti yang diberikan oleh LPPM (Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen), yang mengadopsi dari terjemahan kata franchise. IPPM mengartikannya sebagai usaha yang memberikan laba atau keuntungan sangat istimewa sesuai dengan kata tersebut yang berasal dari wara yang berarti istimewa dan laba yang berarti keuntungan.

Sementara itu, menurut PP No.16/1997 waralaba diartikan sebagai perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut, dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan atau jasa. Definisi inilah yang berlaku baku secara yuridis formal di Indonesia.

pewaralabaan terbagi atas 2 segmen yakni :

  • Franchisor atau pemberi waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang memberikan hak kepada pihak lain untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimilikinya. Franchisor sudah harus siap dengan perlengkapan operasi bisnis dan kinerja manajemen yang baik, menjamin kelangsungan usaha dan distribusi bahan baku untuk jangka panjang, serta menyediakan kelengkapan usaha sampai ke detail yang terkecil. Franchisor juga sudah harus menyediakan perhitungan keuntungan yang didapat, neraca keuangan yang mencakup BEP (Break Event Point) dan ROI (Return On Investment).
  • Franchisee atau penerima waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki pemberi waralaba. Franchisee hanya menyediakan tempat usaha dan modal sejumlah tertentu bergantung pada jenis waralaba yang akan dibeli. Namun franchisee juga mempunyai kewajiban non-finansial yang sangat esensial yakni menjaga image produk waralaba. Franchisee mempunyai dua kewajiban finansial yakni membayar franchise fee dan royalti fee. Franchise fee adalah jumlah yang harus dibayar sebagai imbalan atas pemberian hak intelektual pemberi waralaba, yang dibayar untuk satu kali (one time fee) di awal pembelian waralaba. Royalti fee adalah jumlah uang yang dibayarkan secara periodik yang merupakan persentase dari omzet penjualan. Nilai franchisee fee dan royalti fee ini sangat bervariatif, bergantung pada jenis waralaba.

*Sejarah Waralaba (franchising)

Waralaba diperkenalkan pertama kali pada tahun 1850-an oleh Isaac Singer, pembuat mesin jahit Singer, ketika ingin meningkatkan distribusi penjualan mesin jahitnya. Walaupun usahanya tersebut gagal, namun dialah yang pertama kali memperkenalkan format bisnis waralaba ini di AS. Kemudian, caranya ini diikuti oleh pewaralaba lain yang lebih sukses, John S Pemberton, pendiri Coca ColaNamun, menurut sumber lain, yang mengikuti Singer kemudian bukanlah Coca Cola, melainkan sebuah industri otomotif AS, General Motors Industry ditahun 1898. Contoh lain di AS ialah sebuah sistem telegraf, yang telah dioperasikan oleh berbagai perusahaan jalan kereta api, tetapi dikendalikan oleh Western Union serta persetujuan eksklusif antar pabrikan mobil dengan dealer. Waralaba saat ini lebih didominasi oleh waralaba rumah makan siap saji. Kecenderungan ini dimulai pada tahun 1919 ketika A&W Root Beer membuka restauran cepat sajinya. Pada tahun 1935, Howard Deering Johnson bekerjasama dengan Reginald Sprague untuk memonopoli usaha restauran modern. Gagasan mereka adalah membiarkan rekanan mereka untuk mandiri menggunakan nama yang sama, makanan, persediaan, logo dan bahkan membangun desain sebagai pertukaran dengan suatu pembayaran. Dalam perkembangannya, sistem bisnis ini mengalami berbagai penyempurnaan terutama di tahun l950-an yang kemudian dikenal menjadi waralaba sebagai format bisnis (business format) atau sering pula disebut sebagai waralaba generasi kedua. Perkembangan sistem waralaba yang demikian pesat terutama di negara asalnya, AS, menyebabkan waralaba digemari sebagai suatu sistem bisnis diberbagai bidang usaha, mencapai 35 persen dari keseluruhan usaha ritel yang ada di AS. Sedangkan di Inggris, berkembangnya waralaba dirintis oleh J. Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg, pada tahun 60-an. Bisnis waralaba tidak mengenal diskriminasi. Pemilik waralaba (franchisor) dalam menyeleksi calon mitra usahanya berpedoman pada keuntungan bersama, tidak berdasarkan SARA.

*Jenis Waralaba

Waralaba dapat dibagi menjadi dua:

  • Waralaba luar negeri/asing adalah waralaba yang berasal dari luar negeri, jenis waraaba ini cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi. Contohnya : McDonald’s, Kentucky Fried Chicken, Bread Talk, Starbucks, Pizza Hut, dll.
  • Waralaba dalam negeri adalah waralaba yang berasal dari dalam negeri, jenis wara laba ini juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba.contoh wara laba local : Primagama, Alfamart, Martha Tilaar, Roti Buana, Edward Forrer, Bogasari Baking Center dan berbagai nama lainnya.

*Tipe-tipe Franchising (waralaba)

Dalam praktek pelaksanaannya, dapat dijumpai beberapa tipe franchising, yaitu :

  1. trade name franchising

dalam tipe ini franchisee memperoleh hak untuk memproduksi, sebagai contoh, PT. Great River memiliki hak untuk memproduksi pakaian dalam Triumph dengan lisensi dari jerman.

  1. Product distribution franchising

Dalam tipe ini, franchisee memperoleh hak untuk distribusi di wilayah tertentu, misalnya soft drink, cosmetics.

  1. pure franchising/ bisiness format

dalam tipe ini franchisee memperoleh hak sepenuhnya, mulai dari trademark, penjualan, peralatan, metode operasi, strategi pemasaran, bantuan manajemen dan teknik, pengendalian kualitas, dan lain-lain. Contohnya adalah restaurant, fash food, pendidikan, dan konsultan.

*Keuntungan dan Kerugian Franchising

Keuntungan memasuki pasar internasional dengan bisnis franchising, adalah :

  • pengalaman dan factor sukses
  • bantuan keuangan dari franchising
  • brand nama dan reputasi
  • bisnis sudah terbangun
  • terdapat standar mutu
  • biaya produksi rendah
  • kesiapan manajemen
  • bantuan manajeman dan teknik
  • frofit lebih tonggi
  • perlindungan wilayah
  • memperoleh manfaat market research dan product development
  • resiko gagal kecil
  • franchisor memberikan banyak bantuan, kepada franchisee.

*Kerugian-kerugian Franchising :

  • program latihan franchisor terkadang jauh dari harapan
  • franchisor hanya sedikit memberikan kebebasan

*Biaya waralaba meliputi:

  • Ongkos awal, dimulai dari Rp. 10 juta hingga Rp. 1 miliar. Biaya ini meliputi pengeluaran yang dikeluarkan oleh pemilik waralaba untuk membuat tempat usaha sesuai dengan spesifikasi franchisor dan ongkos penggunaan HAKI.
  • Ongkos royalti, dibayarkan pemegang waralaba setiap bulan dari laba operasional. Besarnya ongkos royalti berkisar dari 5-15 persen dari penghasilan kotor. Ongkos royalti yang layak adalah 10 persen. Lebih dari 10 persen biasanya adalah biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran yang perlu dipertanggungjawabkan.

*Kontrak Manajenen

Salah satu bagi perusahaan untuk melakukan expansi atau perluasan usahanya keluar negeri damat dilakukan dengan cara melakukan kontrak manajemen , dimana kontrak manajemen dapat dilakukan jika suatu perusahaan menyewakan keahlian atau pengetahuannya kepada pemerintah atau perusahaan uar negeri dalam bentuk sumberdaya manusia. Orang atau pekerja tersebut datang kepada pemerintah atau perusahaan dan mengelola kepentingan mereka. Metode ini sering dilakukan bila terdapat pemasangan fasilitas baru, baik nasionalisasi yang dilakukan pemerintah terhadap badan usaha yang dahulunya dimiliki oleh asing atau swasta, atau bagi perusahaan yang sedang berada dalam kesulitan.

Kontrak manajemen sering dijimpai juga dalam oparasi trun key, dimana perusahaan memberikan jasa penangan seluruh fasiitas baru, termasuk desain, konstruksi, dan pengoprasiannya. Masalah yang serng dihadapi dalam operasi ini adalah lamanya waktu kontrak, yang mengakibatkan panjangnya jadwal pembayaran dan menimbulkan resiko yang lebih besar dipasar mata uang, dimana dalam waktu yang panjang tersebut keadaan pasar uang tidak selalu satabil dan lebih cenderung fluktuatif, sehingga resiko keuangan akan semakin besar. Persaingan dalam usaha ini yang semakin lama semakin meningkat dengan semakin menigkatnya kapasitas luar negeri dengan adanya fasilitas baru.

*Contoh-contoh Franchise

1. Franchise Lokal

Fast food : Ayam goreng Ny Tanzil, California Fried Chicken, Beef Bowl, Isabento.

Restauran /café/bar: Ayam goreng Mbok Berek, Ayam goreng Ny. Suharti, Es teler 77, Delly Joy, King Friend Chicken & Steak, Laura Arfura, Mie Tek Tek.

Pizza/es krim/donut/cakes: Holland Bakery, Croisant de France, Nilla Chandra cakes.

2. Franchising Asing.

Fast Food: KFC, Texas Fried Chicken, Mc. Donald, A & W, Wendyis, H

Restauran/café/bar: Red Lobster, Panderosa, Sizzler, Hong Bin Lao, Black Angus, Fashion Café, Hard Rock

Pizza/es krim/Youghurt/donut: Pizza Hut, Round table pizza, Jolli Bee, Baskin, Robins, Dunkin Donuts, Swensens, Yogen Fruzz

ALFAMART
Alfamart merupakan perusahaan nasional yang bergerak dalam bidang perdagangan umum dan jasa eceran yang menyediakan kebutuhan pokok dan sehari-hari. Alfamart dapat dimiliki masyarakat luas dengan cara kemitraan.
Badan Usaha : PT Sumber Alfaria Trijaya
Didirikan : 27 juni 1999
Jumlah took : Lebih dari 2266 (Desember 2007)

A. Manajemen Alfamart
ISO 9001:2000
ISO (International Organisation For Standardisation) adalah sebuah badan yang terdiri atas organisasi-organisasi dari seluruh dunia yang bertanggungjawab untuk mewujudkan standard internasional di negara masing-masing.
Dengan diterimanya Sertifikat ISO 9001:2000 bagi Alfamart berarti Alfamart telah berhasil menerapkan standard-standard internesional didalam setiap unit-unit usaha didalamnya dan menunjukkan bahwa perusahaan nasional mampu bersaing secara internasional.

Carrefour Bina Manajemen Alfamart
JAKARTA – Setelah mengambil alih 75 persen sagam PT Alfa Retailindo Tbk (ALFA), kini PT Carrefour Indonesia akan melakukan kerja sama teknis dengan Alfa. Kerja sama itu termasuk manajemen toko dan branding Carrefour.
Dari kerja sama tersebut, perseroan diharuskan membayar 1,5 persen dari hasil penjualan Alfa yang akan dibayar tiap tiga bulan.
Secara detail, Carrefour akan memberi jasa bantuan teknis dalam laporan keuangan, kepatuhan peraturan, sistem teknologi informasi, SDM, dan aktivitas perdagangan.

Seperti dikutip dari prospektus perseroan, di Jakarta, Kamis (14/2/2008), Carrefour juga menizinkan penggunaan merek dagang Carrefour, dengan catatan membayar kembali 0,3 persen atas penjualan perseroan.
Akan tetapi, transaksi ini akan dibawa ke rapat umum pemegang saham (RUPS), karena terdapat unsur benturan kepentingan. Rencananya, RUPS akan dilakukan Jumat 14 Maret mendatang.
Selaian itu, perseroan juga akan membeli peralatan teknologi informasi dari PT Sumber Alfaria Trijaya sebesar Rp300 juta.
Transaksi ini juga mengalami benturan kepentingan karena pemilik Sumber Alfaria Trijaya, Djoko susanto juga memiliki saham di PT Sigmantara Alfaria Trijaya, pemilik pemilik 20 persen ALFA. (rhs)

B. Pemodalan
Carrefour Indonesia akan melakukan kerja sama teknis dengan Alfa. Kerja sama itu termasuk manajemen toko dan branding Carrefour.
Dari kerja sama tersebut, perseroan diharuskan membayar 1,5 persen dari hasil penjualan Alfa yang akan dibayar tiap tiga bulan.
Secara detail, Carrefour akan memberi jasa bantuan teknis dalam laporan keuangan, kepatuhan peraturan, sistem teknologi informasi, SDM, dan aktivitas perdagangan. Seperti dikutip dari prospektus perseroan, di Jakarta, Kamis (14/2/2008), Carrefour juga menizinkan penggunaan merek dagang Carrefour, dengan catatan membayar kembali 0,3 persen atas penjualan perseroan.

Alfamart genjot gerai kerja sama_
JAKARTA:PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart) akan menggenjot pembukaan gerai SMEsCO, PuWnten, dan Sang Surya Alfamart hasil kerja sama minimarket tersebut dengan Kemenkop & UKM, Paguyuban Warga Banten (PuWnten), dan PT Surya Menara Makmur. Menurut Didit Setiadi, Public Relations Manager Alfamart, kepedulian Alfamart untuk bekerja sama dengan sejumlah koperasi, terkait dengan keinginan ritel modern itu untuk memperbanyak toko yang dimiliki masyarakat.
“Semua ini menjadi bagian dari kepedulian kami. Target kami, toko sebanyak mungkin
milik masyarakat, sesuai visi Alfamart sebagai jaringan distribusi ritel terkemuka yang
dimiliki oleh masyarakat luas berorientasi pada pemberdayaan usaha kecil dan
menengah,” ujar Didit kepada Bisnis, Senin malam. Alfamart juga tidak menutup kemungkinan untuk menjalin kerja sama dengan koperasi lainnya, asalkan memiliki tempat berlokasi bagus, yayasan atau koperasi dinilai memang memiliki pasar, dan mempunyai modal. Seperti halnya yang dilakukan Alfamart dalam membangun kerja sama dengan koperasi untuk membangun toko bernama SMEsCO, PuWnten, dan Sang Surya Alfamart. “Tempat dan permodalan dari mereka [koperasi atau yayasan].”
Saat ini SMEsCO telah memiliki tiga minimarket, yaitu SMEsCO Darunnajah, SMEsCO
PKPRI-Banjarnegara, Jateng, dan SMEsCO Primkopti Cirebon. (Bisnis/ltc)


C. Pembagian Hasil
Alfamart adalah contoh dari waralaba “full operated by master franchise”…. didiemin 5 tahun-pun…. incomenya akan tetap saya terima setiap 3 bulan (karena pembagian hasil-usaha dilakukan 3 bulan 1x). Oleh sebab itu impian saya adalah memiliki 3 Alfamart. Dengan pembagian hasil-usaha pada bulan yang berbeda…. jadi setiap bulan akan terima hasil-usaha…. tanpa meluangkan “waktu” saya

D. Produk
produk yang dijual di Alfamart merupakan produk yang telah melalui seleksi pasar. “Jika memang masyarakat sekitar itu hanya memerlukan satu merek untuk satu produk ya kita jual satu merek saja. Karena Alfamart tidak mau menjual produk yang susah atau lama lakunya.”
Pemilik toko tidak perlu mencari barang dagangan karena seluruhnya disuplai dari Alfamart. Bahkan seleksi dan pelatihan karyawan, sistem dan administrasi keuangan toko, hingga promosi dan pembukaan toko semuanya dilakukan Alfamart. Pemilik toko juga mendapat panduan, bimbingan operasional, supervisi, dan konsultasi selama lima tahun pertama. “Itulah sebabnya mengapa semua toko Alfamart memiliki penataan dan display produk yang sama. Ini juga sebagai kunci keberhasilan Alfamart dalam membina hubungan dengan produsen.”
Jakarta (ANTARA News) – PT Sumber Alfaria Trijaya yang merupakan perusahaan pengelola minimarket Alfamart pada tahun ini menargetkan pertumbuhan gerai baru sebesar 30 persen atau sekitar 600 toko, baik dengan pola waralaba atau kepemilikan langsung. Deputi Direktur Pengembangan Waralaba PT Sumber Alfaria Trijaya, Maria Harjono kepada pers di Jakarta, Rabu, mengatakan, pihaknya optimistis target itu akan tercapai. Meski diakuinya dari jumlah sekitar 600 gerai baru, 80 persennya kemungkinan akan merupakan gerai langsung dari perusahaan, sementara sisanya ditawarkan melalui waralaba. Di sisi lain, katanya, perusahaan akan secara bertahap mengurangi pola kepemilikan langsungnya dengan menjual gerai yang sudah berjalan. Tahun lalu, lanjutnya, ada 21 gerai yang telah berjalan dijual kepada mitra yang berminat. Jumlah yang sama juga akan dilepas pada tahun ini.
“Sekarang sudah ada sekitar 90 investor yang menyatakan minatnya untuk membeli `outlet` (gerai) yang sudah jadi tanpa harus membangun dari awal,” katanya.
Pembukaan gerai baru itu, katanya, juga masih fokus di Pulau Jawa dulu meski permintaan sudah mulai datang dari Sulawesi dan Kalimantan.
“Untuk tahun ini kita masih fokus ke Jawa dulu. Di Sumatera memang kita juga mulai masuk dari Lampung,” katanya.
Total gerai Alfamart saat ini mencapai 2.400 unit yang terdiri dari 503 dengan pola waralaba dan sisanya merupakan kepemilikan langsung dari perusahaan.
Maria juga menyatakan beberapa bank juga sudah mendukung upaya pengembangan waralaba ini dengan memberikan kredit dari mitra yang akan membuka Alfamart. “Saat ini sudah ada dua bank yang berhubungan dengan kita yaitu BNI dan BRI,” katanya.
Alfamart saat ini, katanya, juga sedang mengembangkan pola grosir bagi para pedagang kecil yang disebut dengan “Store Selling Point” (SSP). SSP ini dimaksudkan untuk menjadi tempat bagi para pedagang kecil membeli berbagai produk Alfamart untuk dijual kembali.

INDOMARET
Jaringan minimarket yang menyediakan kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari dengan luas penjualan kurang dari 200 M. Dikelola oleh PT Indomarco Prismatama, cikal bakal pembukaan Indomaret di Kalimantan dan toko pertama dibuka di Ancol, Jakarta Utara.
Tahun 1997 perusahaan mengembangkan bisnis gerai waralaba pertama di Indonesia, setelah Indomaret teruji dengan lebih dari 230 gerai. Pada Mei 2003 Indomaret meraih penghargaan “Perusahaan Waralaba 2003” dari Presiden Megawati Soekarnoputri.
Hingga Februari 2009 Indomaret mencapai 3176 gerai. Dari total itu 1830 gerai adalah milik sendiri dan sisanya 1346 gerai waralaba milik masyarakat, yang tersebar di kota-kota di Jabotabek, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogjakarta, Bali dan Lampung. Di DKI Jakarta terdapat sekitar 300 gerai.
Indomaret mudah ditemukan di daerah perumahan, gedung perkantoran dan fasilitas umum karena penempatan lokasi gerai didasarkan pada motto “mudah dan hemat”.
Lebih dari 3.500 jenis produk makanan dan nonmakanan tersedia dengan harga bersaing, memenuhi hampir semua kebutuhan konsumen sehari-hari.
Didukung oleh 12 pusat distribusi, yang menggunakan teknologi mutakhir, Indomaret merupakan salah satu aset bisnis yang sangat menjanjikan. Keberadaan Indomaret diperkuat oleh anak perusahaan di bawah bendera grup INTRACO, yaitu Indogrosir, Finco, BSD Plaza dan Charmant.

A.Manajemen
Bisnis yang relatif stabil adalah bisnis retail di mana semakin banyak masyarakat Indonesia memilih untuk berbelanja di supermarket dibanding ke pasar tradisional. Melihat prospek cerah ini, tidaklah heran bila semakin banyak investor yang melirik bisnis waralaba retail termasuk carrefour yang pada akhirnya telah membeli sebagian besar saham mini market lokal.
Indomaret, waralaba bisnis retail yang hingga saat ini telah memiliki lebih dari 1000 outlet yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia merupakan leader bisnis retail lokal yang mengembangkan jaringan bisnisnya menggunakan sistem waralaba/franchise.
Dalam mendukung partner kerjanya, waralaba indomaret memberikan dukungan berupa perencanaan anggaran biaya, selesi lokasi, studi kelayakan investasi, renovasi ruang usaha, seleksi dan pelatihan karyawan, serta program promosi penjualan.
Sistem waralaba ini mulai dikembangkan PT. Indomarco Prismatama. Perusahaan yang menaungi Indomaret, sejak 1997, sepuluh tahun seetlah Indomaret berdiri. Menurut Jimmy Caryabudi, Vice Executive Director Indomarco, Indomaret pertama kali didirikan pada 1987 di Pontianak, Kalimantan Barat. ”Letaknya tak jauh dari sebuah area pabrik plywood,” kata Jimmy kepada Hertiana D.P. Dari Gatra. Pola di Pontianak itu kemudian dikembangkan di Jakarta.

Kalau sekarang baru sekitar 41% waralaba, lanjut Jimmy, ke depan pengembangan gerai Indomaret akan lebih ditekankan pada sistem ini. ”Tahun depan komposisinya 60% hingga 70% waralaba,” katanya. Untuk selanjutnya, target komposisinya bahkan akan terus dinaikan hingga 80%. Dengan strategi tersebut, Indomarco ingin menjadikan Indomaret sebagai aset nasional dalam jaringan retail waralaba yang kuat dan unggul dalam persaingan global.
pihak manajemen juga terus melahirkan pelayanan yang inovatif. Tahun 2006 misalnya, Indomaret menjual Ice Tart Cake untuk keperluan pesta ulang tahun atau berbagai acara lain. Caranya, konsumen bisa memesan dua hari sebelum kegiatan itu diselenggarakan. Sistem ini disebut delivery service. Konsumen cukup datang ke Indomaret, melihat katalog, memilih produknya, kemudian pihak supplier akan mengirimnya sesuai hari yang diminta.

B. Pemodalan
Permodalannya dari perusahaan besar yang mempunyai saham cukup banyak yaitu PT. Indomarco Prismatama . Modalnya cukup untuk bersaing dengan waralaba-waralaba yang lain seperti alfamart.
C. Pembagian Hasil
sistem takeover memakan biaya hingga 500juta. perbulan akan mendapat cash-in dari manajemen ( jika normal ) sebesar 13,5 juta ( 7,5 untuk modal kembali dan sisanya laba bersih ) jadi sekali lagi jika kondisi normal rata2 laba perbulan yg diperoleh adalah 1 persen dari modal ( 5juta dari 500juta ).
rata2 laba perbulan yg diperoleh adalah 1 persen dari modal .

D. Produk
MULAI 12 Oktober 2004 Indomaret menjual gas dan tabung Elpiji Pertamina. Kerja sama pemasaran Elpiji Pertamina ke Indomaret ditandai dengan peluncuran perdana produk itu di gerai Indomaret, Jl Kepu Selatan, Jakarta, Selasa (12/10).
Peresmian ini dihadiri oleh Operation Director PT Indomareo Prismatama, Laurensius Tirta Widjaja (kedua dari kanan) dan Vice Director Merchandising, WiwiekYusuf serta General Manager Gas Domestik PT Pertamina (Persero), A Faisal (pertama dari kiri) dan LPG Business Development Assistant Manager, Adi Haryono.
Indomaret merupakan peritel modern pertama yang memasarkan Elpiji Pertamina langsung ke konsumen. Untuk tahap awal dijual di 194 gerai di wilayah Jakarta dari total 934 gerai Indomaret yang tersebar di Jabotabek, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jogjakarta

Adira Insurance


Didirikan pada tahun 2002 dan dikelola oleh sekelompok profesional yang memiliki kompetensi dan pengalaman panjang di dunia asuransi dan otomotif, PT Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance) yang bergerak di bidang asuransi umum memfokuskan tahun-tahun pertamanya di Industri Asuransi Kendaraan Bermotor, dan saat ini juga sedang mengembangkan produk-produk asuransi Non Kendaraan Bermotor.
Dengan tekad “Menjadi Perusahaan Asuransi Umum yang Paling Dikagumi di Indonesia”, Adira Insurance meluncurkan produk unggulan pertamanya pada bulan September 2003, yaitu asuransi mobil dengan merek dagang autocillin,serta asuransi sepeda motor dengan merek dagang motopro pada bulan November 2007.
Didukung Sumber Daya Manusia yang kompeten dan penuh komitmen, serta Teknologi Informasi yang tepat guna, Adira Insurance bertekad memberikan produk dan fitur yang Simple, Unique & Reliable.
Adira Insurance selalu berupaya mewujudkan peace of mind bagi Pelanggannya melalui cara-cara yang unprecedented, yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Selain peace of mind, Adira Insurance menelurkan nilai-nilai dan perolehan hasil usaha yang bermanfaat bagi para stakeholder guna memastikan stakeholder value yang berkesinambungan dalam jangka panjang.
Pengetahuan serta pemahaman yang luas dan mendalam di bidang industri asuransi memungkinkan Adira Insurance untuk mencapai pertumbuhan yang pesat sejak didirikan, tanpa mengesampingkan aspek pengelolaan dan pengendalian risiko yang terkait dengan pertumbuhan itu sendiri.

A. Manajemen
Sejak awal didirikan Adira Insurance sangat menyadari bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) memegang peranan yang sangat strategis bagi perkembangan bisnis. Karenanya sejak tahun kedua berdiri, Adira Insurance sudah menjalankan Management Trainee Program (MT) untuk mendapatkan calon karyawan yang kelak dapat menjadi asset yang sangat berharga untuk membawa Adira Insurance berkembang secara pesat.

Management Trainee Program adalah program pengembangan karyawan yang ditujukan untuk para lulusan baru dengan proses seleksi yang sangat ketat. Calon Management Trainee akan mengikuti beberapa tahap seleksi sebelum diputuskan sebagai peserta MT Program.

B. Pemodalan
Kewajiban perusahaan asuransi mempunyai modal minimum Rp40 miliar tahun ini dan 70 miliar teryata sudah diantisipasi oleh perusahaan asuransi. Mereka sudah menggenjot permodalannya sejak tahun lalu. Peningkatan ekuitas atau permodalan bukan hanya terjadi pada kelompok modal terkecil, yakni modal sendiri kurang dari Rp50 miliar tapi juga diatasnya.
Data Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA) menunjukan ada 7 perusahaan asuransi jiwa yang berhasil meningkatkan modal sendiri atau ‘naik kelas’ ke kelompok modal di atasnya dalam penyusunan rangking pada tahun 2008.
Tercatat ada empat perusahaan yang pada 2006 masih memiliki modal sendiri Rp50 miliar sampai Rp100 miliar, kini telah masuk kelompok perusahaan asuransi jiwa dengan modal sendiri Rp100 miliar sampai Rp 250 miliar, yakni Mega Life, Bakrie Jiwa, Adisarana Wanaartha, dan Sequis Financial.
Sedangkan dari kelompok dengan modal sendiri Rp100 miliar-Rp250 miliar yang naik kelas ke kelompok modal sendiri Rp250 miliar ke atas, tercatat dua perusahaan yakni Sinarmas dan Allianz Life. Adapun Winterthur merupakan satu-satunya perusahaan asuransi jiwa kelompok modal sendiri kurang dari Rp 50 miliar yang naik kelas ke kelompok Rp50 miliar-Rp100 miliar.
Sementara asuransi umum mencatat 10 perusahaan yang naik kelas ke kelompok modal lebih tinggi. Dua berasal dari kelompok modal sendiri Rp100 miliar-Rp250 miliar naik kelas ke kelompok modal sendiri Rp250 miliar ke atas, yakni Adira Insurance dan Tokyo Marine.
Empat perusahaan dari kelompok modal sendiri Rp50 miliar sampai Rp100 miliar masuk kelompok modal sendiri Rp100 miliar-250 miliar, yakni Jaya Proteksi, Reliance Indonesia, Sompo Japan Insurance Indonesia, dan Bumiputeramuda 1967. Dari kelompok Rp50 miliar juga ada empat perusahaan yang meningkatkan ekuitasnya sehingga masuk kelompok modal sendiri Rp50 miliar-Rp100 miliar, yakni Purna Artanugraha, Bringin Sejahtera Arta Makmur, Bosowa Periskop, dan LIG Insurance Indonesia.
“Memang ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mendongkrak ekuitas, salah satunya adalah dengan menahan laba,” kata Pimpinan LMRA Mucharor Djalil.
Sementara itu dalam ajang Insurance Award 2008, dari perusahaan asuransi yang mendapat penghargaan itu, ada tiga perusahaan yang mencatatkan prestasi bagus selama dua tahun berturut-turut. Mereka adalah Asuransi Sinar Mas, Asuransi Mega Life dan Asuransi Jaya Proteksi. Sinarmas yang pada tahun 2008 ini menjadi Asuransi Terbaik I untuk kelompok modal sendiri Rp250 miliar ke atas, pada 2007 lalu adalah Perusahaan Asuransi Terbaik I untuk kelompok modal sendiri Rp100 miliar-Rp250 miliar.
Sementara itu Mega Life tahun ini merupakan perusahaan Asuransi Terbaik I untuk kelompok modal sendiri Rp100 miliar-Rp250 miliar dan pada 2006 lalu merupakan perusahaan Asuransi Terbaik I untuk kelompok modal sendiri Rp50 miliar-Rp100 miliar. Sedangkan asuransi umum, prestasi serupa dibukukan PT Asuransi Jaya Proteksi.
Perusahaan ini pada 2008 berhasil menjadi perusahaan Asuransi Terbaik I untuk kelompok modal sendiri Rp100 miliar-Rp250 miliar, melanjutkan prestasinya pada 2007 sebagai perusahaan Asuransi Terbaik I untuk kelompok modal sendiri Rp50 miliar-Rp100 miliar.

C. Pembagian Hasil
Bagi hasil untuk Anda yang tidak melakukan klaim selama 1 tahun masa pertanggungan. (Besaran tingkat hasil bergantung pada keuntungan investasi dan tingkat klaim).

D. Produk
utocillin, salah satu produk unggulan dari Adira Insurance hadir untuk menjawab permasalahan tersebut. Kelengkapan jaminan serta fitur merupakan bentuk nyata usaha autocillin untuk selalu hadir bagi pelanggannya.
Sesuai dengan nama produk “autocillin”; yang merupakan penggabungan dari dua kata yaitu “auto” dan “cillin”, kami berupaya untuk memberikan “obat” sebagai penyembuh bagi kendaraan. Tetapi bukan hanya bagi kendaraan Anda saja, ataupun nilai financialnya, lebih dari itu, autocillin memberikan penyembuh bagi kekecewaan hati serta ketidaknyamanan yang Anda alami pada saat musibah terjadi.

Kesimpulan

Persaingan global menuntut pengusaha tidak hanya mengantisipasi persaingan dari kompetitor lokal namun juga harus memperhitungkan kompetitor regional maupun global. Waralaba / franchising sebagai salah satu strategi bisnis yang memberikan keuntungan baik kepada franchisor maupun kepada franchisee, disamping juga ada kerugian yang ditanggungnya. Franchising memberikan tambahan keuntungan bagi franchisor tanpa melakukan tambahan investasi, sedangkan keuntungan utama franchisee adalah tingkat kegagalan pasar relatif kecil karena usaha yang dilakukan sudah populer dalam masyarakat. Dari analisa di atas, beberapa kesimpulan yang dapat ditarik ada banyak faktor ikut menunjang keberhasilan bisnis franchise makanan di Indonesia, antara lain :
1. Bentuk franchise merupakan bisnis instant yang banyak diminati oleh pengusaha Indonesia karena pasar yang sudah tersedia serta beberapa keuntungan dari franchise itu sendiri seperti bantuan manajerial dan operasionalyang diberikan oleh frinchisor.
2. Terjadinya pergeseran budaya dari budaya tradisional menjadi budaya modern membantu suksesnya bisnis franchise makanan.
3. Motivasi membeli makanan asing / baru secara keseluruhan sangat tinggi, namun loyalitas merk sangat rendah. Konsumen makanan sangat peka terhadap perubahan mutu dan harga.
4. Menu bisnis franchise makanan menjangkau konsumen segala umur dengan berbagai paket menu untuk anak dan dewasa.
5. Sumber daya manusia dengan keahlian yang dibutuhkan banyak tersedia, program pelatihan dari franchisor secara rutin, mendorong tingginya pertumbuhan bisnis franchise makanan.

Daftar Pustaka

www.google.com

majalah info franchice

www.masalahfranchise.com